Thursday, March 22, 2012

Jangan Bersedih, Ingatlah Allah...





Bismillahirrahmanirrahim...


Hari ini ayuh kita baiki akhlak kita supaya Allah redha dengan kita dan manusia akan menyayangi kita. Allah telah berfirman:



kemudian Allah berfirman lagi,



Mata, telinga, mulut, hidung, kaki, tangan dan sebagainya; Harta yang melimpah ruah. Apa lagi yang kurang? Renungkanlah!

Tidak ada apa yang kurang, saudara. Rumah, kereta, isteri, anak-anak, segalanya cukup belaka. Dan apabila musibah menimpa, Allah tarik balik sedikit sahaja dari kurnia-Nya, mengapa harus kita berdukacita? Mengapa harus bersedih? Bukankah itu petanda bahawa Allah mungkin menggantikan dengan sesuatu yang lebih baik!

Allah tarik sesuatu untuk Allah berikan sesuatu yang lain. Tidak mustahil, sahabatku sekalian.

Demikian juga apabila dirimu yang ditimpa musibah kesedihan, kau hiburkanlah hatimu yang berduka itu dengan bait-bait ayat-ayatNya yang Maha Suci dan Sempurna. Kau renungi sirah Baginda Muhammad Sallallahu’alaihi wassalam yang mulia, kau perah segala ‘ibrah yang terdapat di dalam jalan hidupnya, kerana Demi ALLAH berat lagi ujian dan bebanan yang terpikul ke atas bahu Baginda.

Tentu kau ingat akan kesedihan Baginda ditinggalkan oleh isteri kesayangan Baginda dan juga bapa saudaranya yang tercinta buat selama-lamanya? Juga tidak mungkin kau terlupa akan pemulauan dan ejekan keluarga dan kaum Baginda terhadap Baginda sendiri. Pujukilah hatimu dengan kalimah-kalimah yang menggembirakan hatimu. Sepertimana kau juga memberikan semangat semula kepada mereka yang bersedih di sekelilingmu.

Berlapang dada kepada Allah, bahawa Allah menentukan segalanya. Yakinlah.

Sesungguhnya tidak datang kesedihan itu melainkan suatu ujian bagimu.

Ingatlah, siapa yang sentiasa di sisimu untuk mengabulkan doa? Siapa yang sudi menerimamu kembali setelah kau datang kepada-Nya dengan banjaran dosa-dosamu? Siapa yang memberikan ketenangan dan kesenangan setelah kau diuji? Siapa yang masih mahu memberikan nikmat kepadamu kadangkala tanpa kau memintanya?

Tuhan adalah jawapan kepada segalanya. Kembalilah kepada ALLAH Tuhanmu.



http://www.alhikmahsj.com/

Monday, November 28, 2011

Taqwa Membuahkan Furqan


Misi penciptaan manusia oleh Allah سبحانه و تعالى ke muka bumi ialah untuk beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى semata. Perkara ini harus difahami dan dihayati oleh setiap hamba Allah yang mengaku beriman. Alangkah naifnya bila ada seorang manusia yang berhasil meraih aneka keberhasilan duniawi namun ia tidak memahami bahwa misi hidupnya adalah pengabdian kepada Rabb Pencipta jagat raya yang sejatinya telah mengizinkan dirinya meraih berbagai keberhasilan itu

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku." (QS. Adz-Dzaariyat [51] : 56)

Selanjutnya, Allah سبحانه و تعالى menjelaskan bahwa segenap bentuk pengabdian atau ibadah yang dilakukan manusia di dunia hendaklah ditujukan dalam rangka menggapai taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى .

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai manusia, ber-ibadahlah (sembahlah) Rabbmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2] : 21)

Demikian pula halnya dengan syariat ibadah syiam (berpuasa). Allah سبحانه و تعالى telah mewajibkan orang beriman mengerjakan puasa agar meraih taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى .

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2] : 183)

Taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى merupakan perkara yang sedemikian pentingnya, sehingga tidak ada seorangpun khotib jum’at menyampaikan khutbahnya kecuali mesti mengandung nasihat taqwa kepada jama’ah sholat jum’at. Selanjutnya biasanya sang khatib mengutip ayat Al-Qur’an berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran [3] : 102)

Bila Allah سبحانه و تعالى memerintahkan orang beriman agar bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, berarti ada pula sebagian orang yang mengaku beriman tidak mencapai taqwa yang sebenar-benarnya alias taqwa yang tidak sebagaimana dikehendaki Allah سبحانه و تعالى . Bagaimanakah taqwa yang sebenar-benarnya taqwa itu? Apakah indikatornya?

Ternyata di dalam Al-Qur’an kita jumpai ayat yang menjelaskan bahwa orang yang bertaqwa kepada Allah سبحانه و تعالى niscaya akan memperoleh furqan.

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إن تَتَّقُواْ اللّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

"Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan . Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Al-Anfaal [8] : 29)

Seorang Muttaqin diberikan Allah سبحانه و تعالى karunia besar berupa “furqan” (kemampuan membedakan antara al-haq/kebenaran dengan al-bathil/kebatilan). Seorang muttaqin tidak mudah hanyut mengikuti arus kebanyakan manusia yang sudah terbiasa mencampur-adukkan keduanya. Jelas ini merupakan buah taqwa yang sangat penting dan mendasar. Inilah di antara indikasi utama seseorang tidak sekedar bertaqwa kepada Allah سبحانه و تعالى tetapi bahkan mencapai sebenar-benarnya taqwa. Dan Allah سبحانه و تعالى melarang keras manusia mencampuradukkan antara al-haq dengan al-bathil.

وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2] : 42)


Bila seseorang, apalagi suatu masyarakat, sudah terbiasa mencampuradukkan antara al-haq dengan al-bathil, maka masyarakat itu bakal mengorbankan al-haq dan memenangkan al-bathil. Penulis sangat khawatir bahwa gejala inilah yang telah mendominasi masyarakat kita, sehingga tidak ada satu kasuspun yang terjadi di negeri ini kecuali penyelesaiannya tidak sampai menyentuh akar masalahnya. Mengapa? Karena sebagian besar fihak yang bertanggung-jawab sudah “tahu sama tahu” bahwa mereka semua terlibat di dalam menyembunyikan al-haq. Maka dalam masyaratkat seperti itu selalu saja yang keluar sebagai “pemenang” adalah al-bathil. Itulah yang Allah سبحانه و تعالى sebutkan di dalam ayat di atas. Bahwa jika manusia mengabaikan larangan mencampuradukkan al-haq dengan al-bathil pasti mereka bakal menyembunyikan al-haq. Dan di lain sisi mereka bakal “memenangkan” al-bathil. Dan itu berarti bahwa mayoritas manusia yang mengaku beriman di dalam masyarakat tersebut belum mencapai taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى dengan sebenar-benarnya taqwa...! Sebab terbukti bahwa ketaqwaan yang mereka miliki tidak sampai menghasilkan furqan.

Lalu bagaimanakah kita dapat membedakan antara al-haq dengan al-bathil itu? Adakah tolok ukur yang jelas bahwa seseorang telah meraih taqwa yang menghasilkan furqan atau kemampuan membedakan antara al-haq/kebenaran dengan al-bathil/kebatilan? Apalagi kita yang hidup di era modern ini dimana fitnah telah begitu merajalela, sanggupkah kita tetap melihat bahwa yang benar itu adalah benar dan yang batil itu adalah batil? Padahal seruan dan ajakan yang berkumandang dewasa ini sedemikian banyak dan beraneka-macamnya. Kita kenal adanya seruan kepada Islam, kapitalisme, komunisme, liberalisme, sosialisme, pluralisme, humanisme, sekularisme, hedonisme, pragmatisme, ateisme, demokrasi, nasionalisme dan lain-lainnya.

Kalau kita merujuk kepada ucapan Allah سبحانه و تعالى di dalam Kitabullah Al-Qur’an, ternyata betapapun banyak dan beraneka-ragamnya seruan di tengah dunia modern penuh fitnah dewasa ini, pada akhirnya Allah سبحانه و تعالى menerangkan bahwa pada hakikatnya hanya ada dua seruan saja: ajakan kepada al-haq/kebenaran dan ajakan kepada al-bathil/kebatilan. Tidak ada bentuk ajakan selain kedua jenis tersebut.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

"Kuasa Allah, yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Al-Haq (kebenaran) dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah Al-Bathil (kebatilan), dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS. Al-Hajj [22] : 62)

Berdasarkan ayat di atas berarti tolok-ukur perkara furqan ini menjadi sangat sederhana. Barangsiapa mengajak kepada Allah سبحانه و تعالى berarti ia mengajak kepada al-haq/kebenaran. Dan barangsiapa mengajak kepada selain Allah سبحانه و تعالى berarti ia sedang mengajak manusia kepada al-bathil/kebatilan.

Artinya, bilamana ada seseorang atau suatu kelompok, golongan atau partai mengaku dirinya sebagai “pembela kebenaran”, maka kita tinggal minta mereka menjelaskan: apa sih yang anda maksud dengan kebenaran? Jika penjelasannya panjang lebar, berputar-putar dan menggunakan berbagai istilah dan uraian canggih namun pada intinya tidak secara tegas dan jelas menyatakan bahwa kebenaran yang dibela adalah Allah سبحانه و تعالى dan segala yang terkait dengan Allah سبحانه و تعالى (yakni nilai-nilai Ilahi, dien Allah, aturan Allah serta hukum Allah) berarti orang dan kelompok tersebut berdusta. Mereka sesungguhnya tidak membela al-haq/kebenaran. Sebab jelas sekali Allah berfirman bahwa “Kuasa Allah, yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Al-Haq (kebenaran)...” Dan sebaliknya Allah سبحانه و تعالى menyatakan bahwa: “...dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah Al-Bathil (kebatilan)...” Allah menghendaki agar setiap mukmin hanya dan hanya mengajak kepada kebenaran yang datangnya dari Allah Rabb semesta alam bukan selain daripada itu. Artinya, setiap "pejuang kebenaran" sejati hanya mengajak manusia ramai untuk menuju kepada Allah saja dan apa-apa yang berkaitan dengan Allah. Ia hanya mengajak manusia kepada dien Allah, nilai-nilai Allah dan hukum Allah, bukan yang selain daripada itu.


Dan perlu diketahui pula bahwa mampu membedakan antara al-haq dengan al-bathil merupakan perkara yang perlu ditindak-lanjuti lebih jauh lagi. Sebab faktanya ada orang yang sanggup membedakan antara kebenaran dengan kebatilan. Tetapi nyatanya ia tidak mau atau tidak sanggup berfihak kepadanya. Demikian pula, ada orang yang sudah tahu bahwa yang batil itu batil, tetapi ia tidak mau atau tidak sanggup meninggalkan/menjauhinya. Kepada “al-haq” itulah setiap mukmin memberikan wala’-nya (loyalitas) sebagai aplikasi kalimat istbat (peneguhan) “ill-Allah”. Dan kepada “al-bathil” atau “adh-dholal” (kesesatan) ia melakukan bara’ah-nya (pemutusan hubungan) sebagai aplikasi kalimat nafyi (penafian) “Laa ilaaha”.

Oleh karenanya doa yang kita panjatkan kepada Allah سبحانه و تعالى berbunyi:

اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه إنك سميع مجيب

"Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu adalah batil dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa."


Seorang Muttaqin tidak puas hanya dengan kemampuan melihat yang benar sebagai kebenaran. Tapi lebih jauh lagi ia memohon kepada Allah agar dirinya memiliki wala’ (loyalitas) untuk selalu berfihak kepadanya. Demikian pula, ia tidak puas hanya dengan kemampuan melihat yang batil sebagai kebatilan, tetapi ia memohon lebih lanjut agar dirinya senantiasa bara (berlepas diri/memutuskan hubungan) dengan al-bathil.


Sumber: http://www.eramuslim.com/suara-langit/undangan-surga/taqwa-membuahkan-furqan.htm

Friday, November 25, 2011

Cara Khatam Al Quran Dalam Seminggu


Rasulullah s.a.w menekankan kepada kita supaya meluangkan seberapa banyak masa untuk membaca dan memahami al Quran. Secepat-cepat tempoh masa yang boleh khatam al Quran adalah selama 3 hari dan selewat-lewatnya jangan jangan lebih dari sebulan. Sebaik-baiknya al Quran dikhatamkan bacaannya dalam tempoh seminggu.

Beberapa sahabat Rasulullah s.a.w yang masyhur seperti sayyidina Uthman, Zaid Ibn Thabit, Ibn Mas'ud dan lain-lain mengkhatamkan al Quran dalam masa seminggu dengan dibuat penyusunan surah-surah seperti berikut :

Malam Jumaat : surah al Baqarah hingga surah al Maidah

Malam Sabtu : surah al An'am hingga surah Hud

Malam Ahad : surah Yusuf hingga surah Maryam

Malam Isnin : surah Toha hingga surah al Qasas

Malam Selasa : surah al 'Ankabut hingga surah Sod

Malam Rabu : surah Tanzil (al Zumar) hingga surah al Rahman

Malam Khamis : menghabiskan surah yang berbaki

Selamat beramal!



Sumber: penadaie.com

Saturday, October 16, 2010

Menangislah...


Assalamu'alaikum...


Kata Ibnu Qayyim - 10 Jenis Tangisan:

· Menangis kerana terlalu sedih.

· Menangis kerana terasa hina dan lemah

· Menangis untuk mendapat belas kasihan orang

· Menangis kerana mengikut-ikut orang menangis

· Menangis orang munafik - pura-pura menangis

· Menangis kerana kasih sayang & kelembutan hati

· Menangis kerana rasa takut

· Menangis kerana cinta

· Menangis kerana gembira

· Menangis kerana menghadapi penderitaan.


"..Dan bahawasanya DIA lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis." (AnNajm : 43)

Jadi, Allah lah yang menciptakan ketawa dan tangisan, serta menciptakan sebab tercetusnya. Banyak air mata telah mengalir di dunia ini. Sumbernya dari mata mengalir ke pipi terus jatuh ke bumi. Mata itu kecil, namun ia tidak pernah kering, ia berlaku setiap hari tanpa putus-putus. Sepertilah sungai yang mengalir ke laut tidak pernah berhenti? Jika air mata itu ditampung banjirlah dunia ini.

Menangis tercela atau terpuji??? Ada tangisan yang sangat dicela umpamanya meratapi mayat dengan meraung dan memukul-mukul dada atau merobek-robek pakaian. Ada pula tangisan sangat-sangat dipuji dan dituntut iaitu tangisan kerana menginsafi dosa-dosa yang silam atau tangis kerana takut akan azab dan siksa Allah.

Tangisan dapat memadamkan api neraka. Rasulullah saw bersabda: Tidaklah mata seseorang menitiskan air mata kecuali Allah akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Dan apabila air matanya mengalir ke pipi maka wajahnya tidak akan dikotori oleh debu kehinaan, apabila seorang daripada suatu kaum menangis, maka kaum itu akan dirahmati. Tidaklah ada sesuatupun yang tidak mempunyai kadar dan balasan kecuali air mata. Sesungguhnya air mata dapat memadamkan lautan api neraka."

Air mata taubat Nabi Adam a.s Beliau menangis selama 300 tahun tanpa mendongak ke langit kerana tersangat takut dan hibanya terhadap dosa yang telah ia lakukan. Dia bersujud di atas gunung dan air matanya mengalir. Dari air matanya itulah Allah telah menumbuhkan pohon kayu manis dan pohon bunga cengkih. Beberapa ekor burung telah meminum akan air mata Adam lalu berkata, "Manis sungguh air ini." Nabi Adam terdengar lalu menyangka burung itu mempersendakannya, lalu ia memperhebatkan tangisannya. Lalu Allah mendengar dan menerima taubat Adam dan mewahyukan, "Hai Adam sesungguhnya belum saya pernah menciptakan air lebih lazat daripada air mata taubat mu!."


Air mata yang tiada di tuntut:

· Janganlah menangis kalau tidak tercapai cita-cita. Bukankah Tuhan yang telah menentukannya.

· Janganlah menangis kerana cinta tidak berbalas, mungkin dia bukanlah jodoh yang telah Tuhan tetapkan.

· Janganlah menangis jika gagal dalam peperiksaan mungkin kita kurang membuat persediaan.

· Jangan menangis kalau wang kita hilang di jalanan sebab mungkin kita kurang bersedekah buat amalan.


Dari itu...?

Simpanlah air mata-air mata tangisan itu semua buat bekalan untuk menginsafi di atas segala kecuaian yang telah melanda diri, segala dosa-dosa yang berupa bintik2 hitam yang telah mengkelamkan hati hingga sukar untuk menerima hidayah dari Allah S.W.T.

Serulah air mata itu dari persembunyiannya di balik kelopak mata agar ia menitis membasahi dan mencuci hati agar ia putih kembali dan juga semoga ia dapat melebur dosa2 dan moga-moga akan mendapat ampunanNya jua.



Friday, July 2, 2010

Khusyuk Solat (3)




Saya pernah disoal oleh pelajar ketika saya bercerita kepada mereka bagaimana mencapai solat yang khusyuk. Mereka ingin tahu bagaimana cara saya mencapai khusyuk di dalam solat. Saya kongsikan jawapan saya kepada mereka dengan saudara semua di sini.

Seringkali khusyuk di dalam solat ini dikaitkan dengan kisah Saidina Ali r.a ketika beliau terkena anak panah musuh. Beliau diriwayatkan mendirikan solat sunat dan ketika itulah anak panah tersebut dicabutkan dari kaki beliau tanpa ada rasa sakit sedikit pun. Khusyuk inilah yang kita jadikan panduan untuk kita capai hingga ke hari ini.

Namun kita jarang membaca kisah bagaimana Nabi Muhammad s.a.w melakukan solatnya. Baginda sudah pasti adalah manusia yang paling khusyuk solatnya.

1. Ketika Nabi sedang menjadi imam solat, tiba-tiba baginda terdengar anak kecil menangis. Baginda mempercepatkan solatnya kerana bimbang terjadi sesuatu dengan anak itu.

2. Ketika sedang solat, Nabi melihat ada binatang berbisa yang menghampiri tempat solat baginda. Baginda menghentikan solat dan mengusir binatang berbisa tersebut dan kemudian mendirikan semula solat.

3. Pada suatu ketika, setelah selesai solat berjemaah, Nabi tidak berdoa sebagaimana biasanya, tetapi segera bergegas pulang. Ketika kembali ke masjid, baginda ditanya oleh sahabatnya mengapa baginda bergegas pulang. Baginda menjawab bahawa ketika solat, beliau ingat ada sedekah yang belum diberikan. Kerana itu beliau segera pulang dan memberikan sedekah yang telah dibahagikan itu.

Banyak lagi kisah solat Nabi yang diriwayatkan. Adakah semua ini menunjukkan Nabi tidak khusyuk di dalam solat? Nabi khusyuk di dalam solat. Namun Nabi juga peka dengan keadaan sekelilingnya.

Firman Allah S.W.T:
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk; (Iaitu) mereka yang percaya dengan yakin bahawa mereka akan menemui Tuhan mereka, dan bahawa mereka akan kembali kepadaNya.
(Surah Al-Baqarah:45-46)

Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan khusyuk sebenarnya bukanlah fokus atau konsentrasi menjadi perkara utama tetapi khusyuk itu adalah KEYAKINAN DAN KESEDARAN BAHAWA KITA SEDANG MENGHADAP ALLAH (“Living at the Present”). Di sinilah dua perkara utama akan wujud iaitu Ketuhanan dan Kehambaan. Apabila keyakinan ini dirasai, maka pastinya fokus, konsentrasi dan keasyikan itu hadir dengan sendiri. Saya beri jawapan kepada pelajar saya.

Saya mulakan khusyuk ketika hendak pergi mengambil wuduk. Saya sedar (living at the present) yang saya ingin mendirikan solat.

Ketika wuduk, setiap kali anggota wuduk disapukan dengan air, saya akan berkomunikasi dengan Allah meminta doa.

Ketika saya solat, sebelum saya membaca bacaan-bacaan dalam solat, saya pastikan diri saya benar-benar merasai yang saya sedang menghadap Allah. Benar-benar merasai keberadaan Allah yang sangat hampir dengan saya. Saya merasakan diri saya ini sangat kecil, hina, tidak ada apa-apa dan saya merasakan bahawa Allahlah satu-satunya tempat saya berharap, Maha Berkuasa dan sebagainya sehingga jiwa/hati saya ini terasa tertunduk malu, takut, berharap kemaafan, mengharapkan cintaNya dan sebagainya.

Jika saya teringatkan hal lain, saya komunikasi dengan Allah hal tersebut sambil berdoa agar hilangkan hal tersebut dalam fikiran saya.

Sebagai contoh, Sebelum saya membaca Al-Fatihah, saya pastikan jiwa saya benar-benar tunduk pada Allah. Kemudian saya akan baca setiap ayat di dalam Al-Fatihah satu persatu dengan sabar.

Biarlah apa jua keadaan seperti saya kesuntukan masa sebagai contoh untuk hadir ke mesyuarat atau ke kelas atau pun hal lain, saya akan bersolat dengan tertib satu persatu. Jika cepat hadirnya rasa tunduk pada Allah itu, maka cepatlah solat saya.

Sebenarnya saya cuba mempraktikkan thuma’ninah di dalam solat. Setiap gerakan dan bacaan itu di baca satu persatu di samping saya merasakan kehadiran Allah S.W.T walaupun hakikatnya Allah S.W.T sentiasa berada dekat dengan saya.

Gerakan dari satu rukun ke rukun yang seterusnya dilakukan dengan berhati-hati. Tidak perlu terburu-buru. Kita sentiasa sedar dengan apa yang kita lakukan. Kita berada dalam keadaan “living at the present”.

Ketika rukuk, saya tidak terburu-buru membaca, tetapi saya tundukkan dulu fikiran saya, jiwa/hati saya kepada Allah S.W.T. Kemudian setelah semua terasa tunduk, barulah saya memuji Allah - subhaana rabbial azimi wa bihamdih. Begitu juga dengan sujud dan lain-lain.

Saya mempraktikkan komunikasi dengan Allah untuk merasai jiwa/hati ini tunduk pada Allah. Untuk merasai ketuhanan Allah dan kehambaan diri saya.

Jika ini dilakukan pasti solat yang dilakukan akan mengambil masa 15-20 minit tanpa kita sedar. Kita juga tidak sedar mengalirkan air mata ketika melakukan solat ketika merasai ketuhanan Allah dan kehambaan diri kita.

Selalulah berkomunikasi dengan Allah seperti yang saya sering sarankan di dalam artikel di laman web ini. Apabila kita sudah biasa berkomunikasi dengan Allah, pasti khusyuk di dalam solat tidak lagi menjadi satu perkara yang sukar untuk kita perolehi kerana di dalam kerja pun kita juga khusyuk merasakan kehadiran Allah S.W.T.

Komunikasi dengan Allah S.W.T mampu membawa kita merasai kehadiran Allah S.W.T. Kita merasakan ketuhanan Allah S.W.T dengan perasaan jiwa kehambaan yang benar-benar pasrah, berharap dan yakin hanya 100% pada Allah.

Firman Allah:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu melakukan tipu daya (terhadap agama) Allah (dengan perbuatan pura-pura beriman sedang mereka kafir pada batinnya), dan Allah pula tetap membalas tipu daya mereka (dengan membiarkan mereka dalam keadaan munafik).

Mereka pula apabila berdiri hendak sembahyang, mereka berdiri dengan malas. Mereka (hanya bertujuan) riak (memperlihatkan sembahyangnya) kepada manusia (supaya disangka bahawa mereka orang yang beriman), dan mereka pula tidak mengingati Allah (dengan mengerjakan sembahyang) melainkan sedikit sekali (jarang-jarang).
(Surah An-Nisaa’:142)

Wednesday, June 30, 2010

Khusyuk Solat (2)


Khusyuk itu bukan sesuatu yang direka. Kita hanya perlu mendapatkan dan merasai rasa khusyuk. Bukan menciptakan rasa khusyuk.

Apakah khusyuk?
Khusyuk bermakna asyik. Apabila saudara berada di dalam keadaan keasyikan, pasti saudara tidak akan mengingati yang lain melainkan sesuatu yang mengasyikkan saudara itu sahaja. Keasyikan memberikan pengaruh yang besar di dalam diri kita. Kita lebih mudah mengingati dan mengikut perkara yang mengasyikkan diri kita.

Ketika saudara berada dalam keadaan keasyikan menonton TV, saudara juga berada di dalam keadaan khusyuk. Jika rancangan TV yang kita tonton membuatkan kita asyik, pasti pengaruhnya kepada diri kita adalah tinggi. Kita sentiasa ingat rancangan atau cerita TV itu sahaja. Tidak hairan bagaimana kanak-kanak lagi mudah terpengaruh.


Keasyikan atau khusyuk menjadikan fikiran kita berada di tahap alpha di mana proses berfikir perkara yang lain selain sesuatu yang mengasyikkan menjadi kurang. Sedang kita menonton rancangan yang mengasyikkan, bukankah kita akan terlupa perkara-perkara yang lain selain daripada rancangan yang mengasyikkan itu sahaja?


Apakah khusyuk dalam solat?
Solat mempunyai 2 perkara utama iaitu ketuhanan dan kehambaan. Apabila kita khusyuk di dalam solat, kita mestilah berada di dalam keadaan yang kita SEDAR diri kita sedang mendirikan solat. Kita mesti berada di dalam ‘living at the present’.

Kita mesti merasai 2 perkara utama yang dikatakan iaitu Allah itu Tuhan dan diri kita ini hambaNya. Mesti ada perasaan cinta pada Allah, merayu, memohon, menyesali dosa, mengharap dan sebagainya. Kita memahami sepenuhnya dengan penuh kejiwaan setiap apa yang kita lafazkan di dalam solat. Kita merasai keberadaan Allah S.W.T sangat hampir dengan diri kita walaupun hakikatnya memang Allah S.W.T berada sangat hampir dengan kita.


Bagaimana solat dapat menguatkan jiwa? Apabila kita berada dalam keadaan asyik atau khusyuk di dalam solat, kita tidak akan mengingati perkara yang lain selain solat. Maka nafsu akan menjadi lemah kerana tidak banyak perkara yang kita fikirkan. Nafsu tidak mampu mempengaruhi fikiran. Lalu jiwa yang sentisa mengajak kepada sifat-sifat Allah akan dapat menguasai fikiran hasil daripada kelemahan nafsu. Inilah yang dikatakan jiwa menjadi kuat iaitu jiwa yang kuat adalah jiwa yang dapat menguasai fikiran bukan nafsu yang menguasai fikiran.

Jiwa juga bertambah kuat kerana di dalam solat terdapat 2 perkara utama tadi iaitu ketuhanan dan kehambaan. Dengan 2 perkara ini, kita merasakan penyerahan 100% hidup kita ini kepada tidak ada yang lain melainkan Allah S.W.T . Jiwa/hati menjadi tenang, bahagia dan sejahtera apabila kita dapat meluahkan segala-galanya pada Allah S.W.T ketika kita bersolat. Kita merasakan semua masalah kita adalah cuma ilusi fikiran dan hanya Allah S.W.T yang dapat menyelesaikan masalah kita.


Selain itu, solat juga menambahkan lagi rasa cinta kita pada Allah S.W.T dengan puji-pujian yang kita berikan pada Allah S.W.T dengan penuh kejiwaan dan keikhlasan. Rasa cinta ini hanya akan wujud jika kita solat dalam keadaan khusyuk.


Bagaimana mencapai khusyuk dalam solat?
Setelah kita memahami khusyuk itu bermaksud asyik dan caranya adalah mengurangkan proses berfikir dengan berada di dalam keadaan ‘living at the present’ maka sudah pasti kita tahu bagaimana untuk mencapai khusyuk di dalam solat.

Saya tidak menulis dengan teperinci di sini kerana penjelasannya agak panjang. Tetapi saya menulis secara asasnya sahaja.


Berbalik kepada konsep ‘living at the present’ atau berada di dalam keadaan sekarang atau NOW, kita boleh mempraktikkannya di luar solat. Untuk menjiwai apa yang kita baca di dalam solat, kita perlu memahami setiap makna bacaan di dalam solat. Memahami tidak sama dengan sekadar menghafal. Memahami adalah menjiwai.


Seperti contoh, apabila kita melafazkan “Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam” mestilah turut benar-benar merasai Allah S.W.T Maha Hebat yang memiliki seluruh alam ini.


Ia berlaku dengan spontan seperti kita menyebut “thank you” pada kawan kita. Kita tidak perlu mengingati thank you itu bermakna terima kasih ketika kita melafazkannya tetapi kita merasakan perasaan terima kasih itu apabila kita menyebut “thank you” tanpa perlu memikirkan makna thank you tersebut.

Maka ia sama ketika kita melafazkan ayat-ayat di dalam solat. Ketika kita melafazkannya dengan perlahan, secara sendirinya kita merasakan makna ayat tersebut.


Dengan menjiwai bacaan solat, barulah kita dapat merasakan kita berada di dalam keadaan ‘living at the present’ ketika solat. Kita sedar kita sedang mendirikan solat dan kita merasakan kehadiran Allah yang sangat hampir dengan kita.


Selain itu adalah makruh hukumnya jika kita memejamkan mata. Ini kerana memejamkan mata akan membuatkan kita lebih mudah berada di luar “living at the present”. Kita lebih banyak memikirkan hal-hal yang lain yang membuatkan solat kita tidak khusyuk. Maka bukalah mata ketika mendirikan solat tetapi memandang kepada satu arah sahaja.


Khusyuk di dalam solat juga boleh diperolehi dengan cara berkomunikasi dengan Allah. Apabila kita rukuk dan sujud, banyakkan lagi berkomunikasi dengan Allah.


Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, “Aku dilarang membaca Al-Quran ketika sujud dan rukuk. Waktu yang paling dekat di antara hamba dan tuhanNya adalah ketika sujud, maka perbanyakkanlah doa ketika itu.”
Rujukan: http://hadith.al-islam.com, Sahih Muslim #738.


“Living at the present” juga boleh dipraktikkan di luar solat. Ketika kita melakukan kerja, banyakkan komunikasi dengan Allah berkenaan dengan apa yang kita lakukan, fikirkan, dengar, lihat dan sebagainya. Dengan cara ini kita dapat memberikan fokus sepenuhnya ke atas kerja yang sedang kita lakukan. Jika kita sentiasa komunikasi dengan Allah, ia akan menjadi satu perkara yang biasa kita lakukan dan pasti amat mudah kita lakukan di dalam solat.

Mudah-mudahan saudara semua mendapat perubahan ke arah kebaikan dengan mendirikan solat. Solat yang berkualiti dapat diukur berdasarkan sikap kita kerana jika kita mendirikan solat dengan berkualiti iaitu khusyuk di dalam solat, pasti perubahan besar akan berlaku ke atas diri kita.

Kita tidak lagi sombong, ego, bercakap besar, merasa diri ini hebat, takabbur, suka mengumpat, rasa megah diri, banyak keinginan duniawi dan sebagainya. Jika ini masih ada di dalam diri kita, ketahuilah bahawa solat kita belum sempurna.


Wallahua'lam.

Sunday, June 27, 2010

Khusyuk Solat (1)



Solat merupakan ibadah yang penting kerana solat ini akan mempengaruhi tingkah laku seseorang mukmin. Solat juga menjadi ibadah utama yang akan dinilai oleh Allah S.W.T di padang mahsyar nanti.


Sebelum mengetahui bagaimana mencapai khusyuk dalam solat, seharusnya kita memahami


Apakah makna solat?

Mengapa Islam mementingkan solat?

Bagaimana solat mampu mengubah sikap atau perilaku seseorang mukmin?

Apakah khusyuk?

Dan barulah kita akan membincangkan bagaimana mencapai tahap khusyuk?


Apakah Solat?

Masalah kita di dalam khusyuk ini adalah kerana kita tidak pernah mengambil tahu apakah sebenarnya solat itu. Mengapa Islam mengambil berat tentang solat? Adakah ia sekadar hanya kaedah untuk Allah menilai manusia samada baik atau tidak? Adakah ia hanya satu ujian untuk kita membuktikan yang kita ini taat pada perintah Allah?


Solat adalah satu ibadah yang mengandungi dua perkara iaitu ketuhanan dan kehambaan. Ibadah solat ini seharusnya memberikan perasaan ke dalam diri jiwa mukmin itu rasa ketuhanan Allah S.W.T dan rasa kehambaan diri manusia itu. Jika ini tidak dirasai, maka gagallah ibadah solat ini.


Solat juga merupakan satu meditasi teragung untuk umat manusia. Meditasi atau tafakkur adalah kaedah untuk memantapkan jiwa. Semasa meditasi kita sebenarnya merendahkan gelombang fikiran sehingga tahap seminimum mungkin. Ia bermakna kita mengurangkan proses berfikir. Ia bertujuan untuk memberi ketenangan kepada kita di samping memantapkan jiwa dan melemahkan nafsu.


Bagaimana mengurangkan proses berfikir dapat melemahkan nafsu?

Sesuai dengan sifat Nafsu, ia akan sentiasa mempengaruhi akal fikiran untuk melakukan kejahatan. Maka dengan cara merendahkan fikiran, nafsu gagal mempengaruhi fikiran.


Merendahkan fikiran atau mengurangkan proses berfikir berlaku ketika KHUSYUK.

Apabila khusyuk di dalam solat, kita hanya memikirkan hanya Allah S.W.T. Kita hanya memikirkan dua perkara iaitu ketuhanan Allah S.W.T dan kehambaan kita kepada Allah S.W.T.


***

Segala tingkah laku kita ini dikawal oleh fikiran. Dengan kata lain, jasad kita ini dikawal oleh fikiran. Sebab itu di dalam keadaan yang banyak berfikir, nafsu amat mudah mengawal fikiran sesuai dengan keinginan nafsu yang pelbagai.


Fikiran pula mempunyai kelemahan kerana semua informasi yang diterima oleh fikiran ini berlaku pemesongan (distortion) dan mungkin ada yang terpadam (deletion) akibat dari penapis luaran dan dalaman. Maka keupayaan kita untuk mengetahui Realiti sebenar terbatas.


Contohnya, jika saudara melihat makanan yang dihias cantik, saudara mungkin berasa ingin makan makanan tersebut. Tetapi sesudah merasa makanan tersebut, barulah saudara tahu makanan itu tidak sedap seperti yang disangka.


Lihatlah kelemahan fikiran pada peringkat awal tadi iaitu tidak mengetahui realiti sebenar makanan itu tidak sedap. Kelakukan kita memakan makanan tadi hanyalah kerana keinginan yang dilahirkan oleh nafsu lalu fikiran yang lemah menilai realiti sebenar hanya mengikuti sahaja.


Sebab itu kita perlu banyak ilmu di dalam hidup ini. Ilmu yang banyak akan dapat menilai baik buruk sesuatu keinginan yang dilahirkan oleh nafsu.


***

Nafsu pula sentiasa membawa manusia ke arah kejahatan. Tidak ada nafsu baik sebenarnya.


“Dan tiadalah Aku berani membersihkan diriku; Sesungguhnya nafsu manusia itu sangat menyuruh melakukan kejahatan, kecuali orang-orang yang telah diberi rahmat oleh Tuhanku (maka terselamatlah ia dari hasutan nafsu itu). Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”

(Yusuf: 53)


Tingkatan nafsu yang banyak diperkatakan adalah sebenarnya merujuk kepada keupayaan nafsu mempengaruhi fikiran. Bukan terdapatnya nafsu baik. Mereka yang mempunyai jiwa yang kuat dan rahmat oleh Allah adalah mereka yang terselamat daripada hasutan nafsu. Sekali lagi bukan kerana mereka mempunyai nafsu yang baik kerana nafsu ini bersifat jahat.


Sebagai contoh, nafsu amarah. Nafsu amarah adalah tingkatan nafsu ketika nafsu mampu mempengaruhi akal fikiran keseluruhannya. Jasad ini seolah-olah telah dikawal oleh fikiran yang telah dipengaruhi nafsu.


Begitu juga dengan tingkatan nafsu yang lain. Nafsu tetap jahat. Cuma sejauh mana ia dapat mempengaruhi fikiran itulah merupakan tingkatan nafsu yang selalu dibincangkan.


***

Apabila kita melakukan solat (taffakur) kita dapat mengurangkan fikiran dan secara langsung nafsu gagal mempengaruhi diri kita (jasad). Ingat, diri kita dikawal oleh fikiran.

Apabila kita kurang berfikir, bermakna nafsu gagal mengarahkan jasad melakukan keburukan atau kejahatan.


Ringkasnya: Jasad di kawal oleh fikiran. Semasa solat fikiran kurang kerana kita hanya ingat Allah SWT (khusyuk). Nafsu hanya mempunyai sedikit fikiran yang boleh digunakan untuk mengawal jasad. Maka nafsu gagal untuk menyuruh manusia membuat kejahatan. Inilah dikenali sebagai nafsu yang telah dididik.


Sebenarnya nafsu yang dididik adalah nafsu yang telah lemah. Tapi ia masih jahat. Bukan nafsu yang dididik menjadi nafsu baik. Ia telah lemah sahaja.


Sebolehnya kita ingin membuang terus fikiran atau dengan nama lain mengosongkan fikiran dan secara langsung membuang terus nafsu. TETAPI mana mungkin kita dapat mengosongkan fikiran kerana kita WAJIB mengingati Allah sepanjang masa.


Nafsu juga diperlukan kerana kita perlu ada keinginan untuk makan minum, melakukan sesuatu dan pelbagai lagi. Apa yang kita boleh lakukan adalah sekadar mengurangkan

proses berfikir dan secara tak langsung nafsu akan menjadi lemah. Barulah keinginan kita boleh dikawal atau dengan nama lain kita mampu mengawal nafsu.


Apakah khusyuk dalam solat?

Bagaimana mencapai khusyuk dalam solat?

Bagaimana solat menguatkan jiwa?


Bersambung...